Saturday, January 28, 2012

Hanum

Terbayang jelas dalam ingatanku. Saat itu aku tinggal di gubuk kecil bersama dengan ibu. Ketika anak seusiaku bersekolah, aku mencari uang untuk membiayai hidup kami. Sisa dari uang yang aku dapatkan, aku sisihkan untuk obat Ibu. Iya, ibu ku sakit keras, sementara ayahku pergi meninggalkan kami. Ayahku hanya menanam benih di tubuh ibu, yaitu aku. Ayah menikahi Ibu hanya sementara, hingga aku lahir. Keluarga ayah sangat membenci ibu, apalagi aku. Karena aku adalah alasan ayah harus menikahi ibu. Tapi aku bahagia bisa selalu berada disamping ibu dan selalu dicintainya.

Ibu meninggal saat usiaku menginjak 8 tahun. Saat itu adalah satu hari sebelum ulang tahun ibu. Aku pergi mencari uang dengan menjajakan koran di lampu merah. Aku ingat sekali, aku bekerja sangat giat saat itu. Aku pulang lebih telat dari biasanya dan membelikan Ibu sepotong kecil. Betapa terkejutnya aku ketika aku pulang dan mendapatkan Ibu dalam keadaan kaku tak bernyawa. Ibu meninggalkan aku sendiri, aku yang kemudian terseok-seok menata hidupku tanpa kehadiran Ibu. Aku frustasi. Ibu adalah satu-satunya yang berharga dalam hidupku. Ibu adalah kompas kehidupanku, tanpa dirinya aku kehilangan arah. Hilang sudah gairah hidupku saat itu. Aku bahkan hampir saja menyusul ibu saat ditemukan tak sadarkan diri oleh Tante Ina di lapangan dekat rumahnya. Dan sejak saat itu pula aku tinggal bersama Tante Ina dan suaminya, Om Fadli. Mereka merawat serta menyekolahkanku. Mereka sangat menyayangiku seolah aku anak yang lahir dari keluarga mereka. Tuhan masih menyayangiku.

Kini aku telah dewasa, Ibu. Aku di sekolahkan oleh mereka bahkan hingga ke bangku kuliah. Kini aku menjadi seperti apa yang Ibu selalu inginkan, seorang wanita karir. Aku bahkan telah menikah dan memberikan Ibu seorang cucu perempuan. Aku menamakannya Hanum, sama seperti nama Ibu. Sifat dan kecantikannya sangat mirip dengan mu. Ibu, aku sangat merindukanmu.

"Mama kok nangis?" aku tersadar ketika Hanum kecil melihatku.
"Mama nggak nangis sayang. Mata mama hanya terkena debu. Hanum sudah mau pulang?" ucapku sambil mengelap air mata yang jatuh di pipiku.
"Iya ma, Hanum capek."
"Sebentar sayang, Mama pamit dulu dengan nenek Hanum ya."

Ibu, aku harus pergi sekarang. Aku sangat menyayangimu, ibu. Aku tidak akan pernah berhenti menyayangimu. Ucapku dalam hati ketika mencium batu nisan putih itu yang bertuliskan HANUM.

No comments: