Apa tempat favoritmu? Kalau kau tanyakan pertanyaan itu padaku, aku akan segera menjawab "Taman". Contohnya taman ini, salah satu taman di Bandung yang menjadi tempat favoritku setiap Sabtu pagi. Anak kecil berlarian, suara burung bersahutan, semilir angin dingin khas Bandung. Ah, Tuhan. Ijinkan aku lebih lama lagi untuk melihat dan merasakan semua ini.
Iya, aku sakit. Dokter bilang sel darah putihku lebih banyak daripada sel darah merah. Kata dokter, penyakit ini bernama Leukimia. Penyakit ini baru aku ketahui 2 bulan yang lalu. Saat itu Dokter mendiagnosis hidupku tidak akan lama. 4 bulan, mungkin itu waktu terlama aku dapat bertahan. Dulu aku tidak pernah membayangkan seperti apa rasanya bila aku tahu lama hidupku di dunia. 2 bulan yang lalu aku baru tahu seperti apa rasanya, ya seperti neraka. Dunia serasa runtuh ketika itu. Ah tapi sudahlah.. Tak ada yang bisa ku lakukan lagi. Selain berterima kasih kepada Tuhan aku masih dapat bernafas setiap aku bangun tiap paginya.
Ah, anak itu. Dia beruntung. Kulihat gadis kecil berlarian mengejar laki-laki yang kemungkinan adalah ayahnya. Dan wanita muda cantik di pinggir taman yang menyoraki mereka yang kemungkinan adalah ibunya. Kurasakan ada rasa panas di dada. Mungkin ini yang orang katakan sebagai rasa iri. Aku iri pada gadis itu. Dia beruntung memiliki kasih sayang yang lengkap dari orangtuanya. Sedangkan aku? Ayahku pergi meninggalkan aku dan ibu sejak aku lahir. Aku dibesarkan oleh orang lain yang dibayar ibu untuk merawatku dirumah kami. Sementara ibu? Dia sibuk mencari uang untuk menafkahi kami dan sibuk memacari laki-laki tua itu.
Ketika aku beranjak dewasa aku memutuskan untuk pergi dan hidup sendiri. Tidak ada seorangpun yang mengetahui sakitku ini, termasuk Harris, lelaki yang kupacari selama sekian tahun dan kutinggalkan dua bulan lalu sejak aku di diagnosis dokter. Aku tidak ingin seorangpun mengasihaniku. Cukup aku saja yang mengasihani diriku sendiri. Tetiba angin semilir dingin memeluk tubuhku. Aku memejamkan mata menikmatinya sambil terduduk dibangku taman ini. Membiarkan pikiran dibawa jauh olehnya. Aku terlelap dan dimimpiku semua hal menjadi putih.. Tuhan, bila nanti aku pergi jemputlah aku di tempat yang indah.