Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Saturday, February 25, 2012

Kania (1)

Apa tempat favoritmu? Kalau kau tanyakan pertanyaan itu padaku, aku akan segera menjawab "Taman". Contohnya taman ini, salah satu taman di Bandung yang menjadi tempat favoritku setiap Sabtu pagi. Anak kecil berlarian, suara burung bersahutan, semilir angin dingin khas Bandung. Ah, Tuhan. Ijinkan aku lebih lama lagi untuk melihat dan merasakan semua ini.

Iya, aku sakit. Dokter bilang sel darah putihku lebih banyak daripada sel darah merah. Kata dokter, penyakit ini bernama Leukimia. Penyakit ini baru aku ketahui 2 bulan yang lalu. Saat itu Dokter mendiagnosis hidupku tidak akan lama. 4 bulan, mungkin itu waktu terlama aku dapat bertahan. Dulu aku tidak pernah membayangkan seperti apa rasanya bila aku tahu lama hidupku di dunia. 2 bulan yang lalu aku baru tahu seperti apa rasanya, ya seperti neraka. Dunia serasa runtuh ketika itu. Ah tapi sudahlah.. Tak ada yang bisa ku lakukan lagi. Selain berterima kasih kepada Tuhan aku masih dapat bernafas setiap aku bangun tiap paginya.

Ah, anak itu. Dia beruntung. Kulihat gadis kecil berlarian mengejar laki-laki yang kemungkinan adalah ayahnya. Dan wanita muda cantik di pinggir taman yang menyoraki mereka yang kemungkinan adalah ibunya. Kurasakan ada rasa panas di dada. Mungkin ini yang orang katakan sebagai rasa iri. Aku iri pada gadis itu. Dia beruntung memiliki kasih sayang yang lengkap dari orangtuanya. Sedangkan aku? Ayahku pergi meninggalkan aku dan ibu sejak aku lahir. Aku dibesarkan oleh orang lain yang dibayar ibu untuk merawatku dirumah kami. Sementara ibu? Dia sibuk mencari uang untuk menafkahi kami dan sibuk memacari laki-laki tua itu.

Ketika aku beranjak dewasa aku memutuskan untuk pergi dan hidup sendiri. Tidak ada seorangpun yang mengetahui sakitku ini, termasuk Harris, lelaki yang kupacari selama sekian tahun dan kutinggalkan dua bulan lalu sejak aku di diagnosis dokter. Aku tidak ingin seorangpun mengasihaniku. Cukup aku saja yang mengasihani diriku sendiri. Tetiba angin semilir dingin memeluk tubuhku. Aku memejamkan mata menikmatinya sambil terduduk dibangku taman ini. Membiarkan pikiran dibawa jauh olehnya. Aku terlelap dan dimimpiku semua hal menjadi putih.. Tuhan, bila nanti aku pergi jemputlah aku di tempat yang indah.

Saturday, January 28, 2012

Hanum

Terbayang jelas dalam ingatanku. Saat itu aku tinggal di gubuk kecil bersama dengan ibu. Ketika anak seusiaku bersekolah, aku mencari uang untuk membiayai hidup kami. Sisa dari uang yang aku dapatkan, aku sisihkan untuk obat Ibu. Iya, ibu ku sakit keras, sementara ayahku pergi meninggalkan kami. Ayahku hanya menanam benih di tubuh ibu, yaitu aku. Ayah menikahi Ibu hanya sementara, hingga aku lahir. Keluarga ayah sangat membenci ibu, apalagi aku. Karena aku adalah alasan ayah harus menikahi ibu. Tapi aku bahagia bisa selalu berada disamping ibu dan selalu dicintainya.

Ibu meninggal saat usiaku menginjak 8 tahun. Saat itu adalah satu hari sebelum ulang tahun ibu. Aku pergi mencari uang dengan menjajakan koran di lampu merah. Aku ingat sekali, aku bekerja sangat giat saat itu. Aku pulang lebih telat dari biasanya dan membelikan Ibu sepotong kecil. Betapa terkejutnya aku ketika aku pulang dan mendapatkan Ibu dalam keadaan kaku tak bernyawa. Ibu meninggalkan aku sendiri, aku yang kemudian terseok-seok menata hidupku tanpa kehadiran Ibu. Aku frustasi. Ibu adalah satu-satunya yang berharga dalam hidupku. Ibu adalah kompas kehidupanku, tanpa dirinya aku kehilangan arah. Hilang sudah gairah hidupku saat itu. Aku bahkan hampir saja menyusul ibu saat ditemukan tak sadarkan diri oleh Tante Ina di lapangan dekat rumahnya. Dan sejak saat itu pula aku tinggal bersama Tante Ina dan suaminya, Om Fadli. Mereka merawat serta menyekolahkanku. Mereka sangat menyayangiku seolah aku anak yang lahir dari keluarga mereka. Tuhan masih menyayangiku.

Kini aku telah dewasa, Ibu. Aku di sekolahkan oleh mereka bahkan hingga ke bangku kuliah. Kini aku menjadi seperti apa yang Ibu selalu inginkan, seorang wanita karir. Aku bahkan telah menikah dan memberikan Ibu seorang cucu perempuan. Aku menamakannya Hanum, sama seperti nama Ibu. Sifat dan kecantikannya sangat mirip dengan mu. Ibu, aku sangat merindukanmu.

"Mama kok nangis?" aku tersadar ketika Hanum kecil melihatku.
"Mama nggak nangis sayang. Mata mama hanya terkena debu. Hanum sudah mau pulang?" ucapku sambil mengelap air mata yang jatuh di pipiku.
"Iya ma, Hanum capek."
"Sebentar sayang, Mama pamit dulu dengan nenek Hanum ya."

Ibu, aku harus pergi sekarang. Aku sangat menyayangimu, ibu. Aku tidak akan pernah berhenti menyayangimu. Ucapku dalam hati ketika mencium batu nisan putih itu yang bertuliskan HANUM.